You are here
Home > Liga Indonesia > Kata Hanafi Soal Penyebab Keterpurukan Persegres di Liga 1

Kata Hanafi Soal Penyebab Keterpurukan Persegres di Liga 1

persegres

Persegres Gresik United kesusahan beranjak dari posisi bawah klasemen sementara Liga 1, menyusul rangkaian hasil mengecewakan yang mereka raih dalam lima laga pertama. Akan tetapi alih-alih melakukan perbaikan, pelatih Persegres Hanafi malah menggarisbawahi aspek nonteknis yang mempengaruhi performa timnya.

Hanafi mengakui kalau sebenarnya tak ada yang salah pada tim besutannya itu, meski dalam empat pertandingan terakhir mereka selalu kalah. Ia berasumsi bila timnya telah mempunyai daya saing yang sama juga dengan tim-tim di Liga 1, walau Persegres sebenarnya diperkuat banyak pemain belia yang minim pengalaman.

Mantan pelatih Perseru Serui itu melanjutkan kalau kesulitan Persegres untuk bangkit dari keterpurukan adalah karena kepemimpinan wasit di Liga 1 yang dikira acapkali tidak menguntungkan bagi timnya.

Hal semacam ini mengacu pada laga menghadapi Persib Bandung, di mana sempat terjadi pelanggaran sebelum tercipta gol satu-satunya bagi Persib di menit-menit terakhir pertandingan. Akan tetapi wasit saat itu tak bergeming, hingga Persib bisa melancarkan serangan balik cepat serta gawang Persegres kebobolan.

Peristiwa lain yang dikira tidak menguntungkan bagi Persegres adalah saat mereka takluk 1-2 dari Bhayangkara FC (7/5). Ia mengeluhkan hadiah penalti yang diterima Bhayangkara, lantaran ia meyakini tak ada kontak dari pemainnya, Jeki Arisandi dengan penyerang Bhayangkara, Muchlis Hadi Ning di dalam kotak penalti.

“Saya mengevaluasi soal kebijakan marquee player. Seolah-olah tim yang mempunyai marquee player tidak boleh kalah dengan tim yang tidak mempunyai marquee player. Entah apakah ini hanya saya yang merasakan, atau memanglah ada kesengajaan,” keluhnya.

Untuk Hanafi sendiri, apa yang dilakukan wasit sama juga dengan membunuh potensi pemain belia yang semestinya dapat naik ke permukaan. Bakat-bakat muda dinilai akan sulit untuk mengorbit dalam situasi seperti ini.

“Yang akan rugi juga adalah sepakbola Indonesia sendiri, bila menggunakan cara yang seperti ini,” ujar Hanafi.

Artikel Lainnya
Top